'' BANGUN !",dengan nada tegas Wahida membangunkan Safura yang masih tertidur di tikar bambu lusuh, dipojok ruangan sempit dan dingin dengan penerangan remang cahaya matahari pagi. Besi-besi hitam kokoh berbaris membentuk laskar penghalang di depan ruangan,tembok berlumut dan penuh coret makian menjadi latar yang kurang menyenangkan untuk ruangan itu." Sel 17,tempat gadis ingusan yang mendadak populer karena tingkah bodohnya meludahi presiden" sindir Wahida ketus. Safura bangun, tersenyum lalu berkata dengan riang "Selamat pagi Ibu Sipir? Kali ini siapa yang datang?". "Jangan bertingkah seolah saya resepsionis pribadimu!" Kata Wahida tajam. Wahida memang perempuan separuh baya yang dingin,kepala sipir yang selalu rapi denagn sepatu pantovel keras,seragam biru ketat, dan rambut terikat hairnet jaring,Wajahnya keriput, sangat serasi dengan kebiasaan hidupnya yang selalu menghindar dari kegiatan "tersenyun hangat"."Apa mereka membawa permen jeruk?" tanya Safura bersemangat."Bukan permen, mereka membawa sikiater untukmu,kuharap mereka mau menjauhkan gadis sinting sepertimu dari lingkungan ini"sahut Wahida. Safura tersenyum seolah baru saja disanjung atau mendapat respon hangat.
"Nanti saya pesan permen jeruk juga untuk anda, kak Seto pasti mau memberikanya",kata Safura riang sambil menari dan berjingkat keluar dari sel,berjalan mengikuti Wahida yang membawanya ke suatau ruangan.Safura berjalan sambil bernyanyi riang "Are you scary Madam? Are you scary Madam.." Wahida gemetar,entah mengapa Wahida merasa begitu takut pada Safura,belum pernah ia merasa seperti ini sebelumnya, Safura berbeda dari napi napi yang lain,dia agak misterius dan kadang terlihat sepert hantu."Apa kau menyindirku?" kata Wahida sambil melotot.Safura tersenyum janggal dan berkata "Menyenangkan bisa membuat orang dewasa merasa terancam".Wahida gemetar dan berlari menjauhi Safura.
Safura masuk ke dalam ruangan yang biasanya,ruang dimana sudah seminggu ini akrab denganya.Psikiater, Wartawan, Menteri,Kak Seto,FPi,KPAI, dan banyak tamu lain datang mengunjungi Safura dengan satu alasan, bertanya mengapa Safura berani MELUDAHI PRESIDEN saat Presiden datang kepenampungan anak jalanan tempat Safura tinggal. Ruangan ini lebar,bercat merah,dengan sofa nyaman dan pendingin ruangan,sangat nyaman untuk ukuran ruang tunggu.Semua ini sengaja dipersiapkan untuk Safura yang memiliki banyak tamu penting dari kalangan atas negeri ini berkat tingkah nylenehnya meludah pada sang agung presiden..yang kini juga menjadi alasan mengapa ia menginap di sel 17. Safura kaget..melihat sosok yang telah menunggunya,kali ini bukan Psikiater ataupaun Kak Seto seperti kata Ibu Sipir..
"Selamat pagi Pak Presiden" kata Safura ceria,dan presiden membalas "Selamat pagi anak cerdas", kata pak Presiden dengan senyum hangat.
"Jadi..langsung saja,aku datang kemari untuk bertanya padamu anak manis,,". Safura memotong," Wah Bapak baik sekali,tapi bukankah saya sudah menjelaskan semua pada Bapak?".Pak Presiden tersenyum dan tidak mempedulikan Safura."Jelaskan padaku lebih banyak lagi..kenapa kau meludah dan mengacungkan pisau padaku saat itu, sungguh aku tidak marah, aku sudah paham bahwa sebagai presiden,bukan mustahil hal itu terjadi padaku." Safura tersenyum, lau berkata "Saya ingin menulis,adakah pensil dan kertas?"
Hampir dua puluh menit Pak Presiden menunggu,sungguh aneh melihat Seorang Presiden dibuat menunggu, apalagi untuk orang pinggiran berumur 12 tahun seperti Safura,terlebih lagi dia pernah melakukan tindakan tidak terpuji padanya."Sudah selesai..Bapak bolem membacanya jika Bapak memberiku permen jeruk'' kata Safura dengan senyum Lebar. Presiden mengeluarkan bungkusan yang sudah beliau persiapkan,setelah mengetahui apa yang Safura sukai dari para tamu sebelumnya."Terima kasih" kata Safura riang.Pak Presiden mengambil kertas yang tergeletak di meja,kertas berisi tulisan tangan Safura,lalu mulai membacanya.
"Yang terhormat Bapak Presiden, saya Safura. Saya adalah orang yang paling mengagumi Bapak, saya setiap hari berdoa agar di ampuni karena meludah pada Bapak.Saya membenci dunia,tapi saya tidak membenci Bapak. Saya pernah bertanya pada kang Sofian,bos pengepul uang saya jika saya mengamen,tentang kehidupan di penjara beberapa saat setelah ia bebas dari penjara. Setelah saat itu,saya begitu ingin masuk penjara. Kata kang Sofian,di penjara kita makan sehari 3 kali,dengan lauk yang terkadang ada ayamnya,dan yang paling penting adalah,itu semua GRATIS.Dipenjara kita diberi seragam layaknya siswa,seragan biru,warna yang bagus,,dari dulu saya ingin sekali memakai seragam,rasanya seperti jadi anak sekolahan.Karena saya dari kecil tidak sekolah,tidak ada yang mendaftarkan saya kesekolah."
"Dipenjara,kata kang sofian kita bisa tidur dengan alas tikar dan ubin yang bagus,dan kita bisa diajari mengaji, dan berkenalan dengan beberapa artis seperti Ariel Peterpan jika beruntung,saya hafal lagu Peterpan! saya bisa menyanyikan beberapa lagu untuk Bapak.Dunia luar kejam, saya sering seharian tidak makan, daya sering tidur tanpa atap,saya sering dimaki,saya sering dipaksa naik mobil satpol PP,dipukul,bahkan saya sering dipaksa telanjang dan digerayang dibawah jembatan layang. Dipenjara SEMUA ITU TIDAK SAYA ALAMI,saya memang kadang dipukuli sesama napi,tapi tak lama,pasti Ibu Sipir datang melindungi saya."
"Saat saya bertanya bagaimana cara masuk penjara pada kang sofian,ia menyuruh saya mencuri, membunuh, atau mencopet.Tapi saya tahu itu dosa yang sulit dimaafkan! saat saya bertanya cara lain,kang sofian marah dan berkata.. Bajingan tengik,kamu mempermainkan saya? kamu bilang kamu mau masuk penjara tanpa melakuakn dosa besar? bodoh! Kalau begitu,LUDAHI SAJA PRESIDEN !!"
Karena itulah tolong jangan bebaskan saya,saya sudah susah payah meludah pada idola saya untuk ada disini,tapi ternyata mereka bilang saya masih terlalu kecil untuk ada disini,dan apa yang saya lakukan telah dimaafkan presiden dan tidak bisa jadi alasan kuat untuk saya tetap ada disini..tolong say Pak,biarkan saya disini.
Presiden telah selesai membaca tulisan itu,mata beliau sembab.Safura masih tersenyum sambil mengemut permen jeruk saat ia sadar Pak Presiden memeluknya dan berbisik,"Safura,maafkan saya.."
END.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar